Thursday, May 9, 2013

Korea: Seoul dalam cita rasa masakannya!

Dari foto di bawah, dapat ditebak postingan kali ini akan bercerita soal apa. Ya, makanan! Salah satu hal yang tidak akan dilewatkan tukang makan ketika berkunjung ke suatu tempat adalah mencicipi cita rasa masakan khasnya.

Bagi sebagian orang mungkin kuliner merupakan alasan terkuat mengapa mereka ingin melakukan perjalanan ke suatu daerah/negara. Dan Korea saat ini telah berhasil memanfaatkan ke-khas-an kulinernya menjadi alasan para wisatawan berkunjung ke Negeri Gingseng tersebut. Tak heran bila kemudian banyak agen wisata yang menawarkan paket khusus kuliner ke negara yang beribukota Seoul tersebut.

Kimchi, Bulgogi, Bibimbab, Samgyetang, Soju, Gochujang, Gimbab, Haemul Pajeon, Tteok, Makgeoli (bukan gurali ya), adalah sebagian dari sekian banyak masakan khas Korea Selatan. Karena provokasi salah satu program televisi yang menayangkan antrian Samgyetang (Sup Ayam Gingseng) di salah satu restoran di Korea, kuliner ini menjadi daftar wajib yang harus dicicipi selama kami di sana. Konon tempatnya di daerah Gwanghwamun - City Hall, tapi sayang kami  tidak berhasil menemukannya. Dan hari itu pun kami harus puas dengan makan ayam goreng K*C tanpa nasi (kemudian ini adalah menu wajib kami selama di sana, karena alasan hemat. hehe).

Beruntung kami dikenalkan dengan Wapres Perpika (Persatuan Pelajar Indonesia di Korea), sehingga dengan mudah bagi kami untuk mendapatkan rekomendasi tempat makan yang "relatif halal" dan cocok di lidah orang Indonesia. Suatu hari kami direkomendasikan untuk mencicipi masakan khas daerah Andong, Gyengsangbuk-do yang bernama Andong Jjimdak yang secara harfiah berarti "Ayam Kukus dari Andong".

Kami disarankan untuk mencicipi masakan potongan ayam kukus yang pedas manis ini di daerah Gangnam (Belokan pertama setelah Stasiun Gangnam Exit 11, lihat gambar di atas). Karena restorannya menggunakan huruf korea, alhamdulillah tidak kurang dari satu jam kami mencari tempat makan ini. Padahal tempat ini udah beberapa kali kami lewati hehe. Setelah bertanya pada orang ke-3, baru kami berhasil mendarat di tempat makan ini dan berhasil menikmati satu porsi jumbo Andong Jjimdak lengkap dengan guntingnya (ini gatau maksudnya apa) dan 2 porsi nasi, seharga 22.000 won.

Kuliner khas Korea lainnya yang kami cicipi adalah Dolsot-Bibimbab dan Yukgaejang yang disajikan dengan beberapa piring kecil Kimchi serta satu porsi nasi panas seharga masing-masing 8.000 won. Kedua kuliner ini kami cicipi di sekitar Istana Changdeokgung sebelum kami menyusuri Bukchon Hanok Village di area Gwanghwamun. Secara rasa kedua pilihan kuliner tersebut tidak ada yang spesial, masih relatif aman dan sama dengan apa yang pernah kami cicipi ketika di Tanah Air (kecuali Kimchi selalu berasa aneh di lidah saya).

Meski tak lebih dari 5 hari kami meninggalkan Tanah Air, bagi kami cita rasa kuliner Indonesia adalah juaranya. Dan girang tak kepalang ketika kami menyusuri Area Itaewon hendak menuju ke Seoul Central Mosque, kami menemukan restoran pertama Indonesia di Korea "SITI SARAH" yang menyajikan jenis masakan melayu dan timur tengah. Satu porsi nasi dengan rendang dilengkapi dengan kerupuk, sambal dan lalapan seharga 9.000 won serta satu porsi tempe mendoan (7 potong) seharga 7.000 won menjadi pilihan makan siang kami kala itu. Mahal! :D

 
© 2008 GandhiAnwar.Com. All rights reserved. Powered by Gandhi Anwar